Belajar Analisa Teknikal Forex Trading dengan Stochastic Oscillator

1125

Indikator stochastics punya aturan khusus sehingga bisa bekerja lebih efektif.
Indikator ini masuk dalam kelas indikator oscillator. George Lane mulai memperkenalkan indikator ini pada tahun 1950-an. Indikator ini adalah indikator pertama yang digunakan para trader untuk memprediksi arah pergerakan harga. Stochastics dibuat dengan dasar pemikiran bahwa ketika trend pasar sedang menguat, harga akan cenderung bergerak ke atas atau setidaknya sesuai dengan harga penutupan pada periode sebelumnya. Bila trend pasar sedang menurun, maka harga akan cenderung bergerak ke bawah atau setidaknya sama dengan harga penutupan pada periode sebelumnya.

Indikator stochastic memprediksi kemungkinan arah trend pasar pada saat ini berdasarkan besarnya perubahan pada harga penutupan dari periode yang satu ke periode berikutnya. Mengacu pada skala tersebut, para trader bisa melihat sinyal dari indikator stochastic. Ada dua komponen pada indikator stochastic yang ditampilkan secara bersamaan, yaitu: garis %K dan garis %D. Garis %K mengukur tingkat perubahan harga saat ini. Garis %D adalah nilai rata-rata moving average dari garis %K. Garis ini juga disebut garis sinyal.

%K dan %D pada suatu periode tertentu bisa dihitung dengan cara sebagai berikut: %K (N) = 100 x (CP – LP) / (HP – LP). CP = harga penutupan pada periode N. LP = harga terendah pada periode N. HP = harga tertinggi pada periode N. Untuk penggunaan yang standar George Lane merekomendasikan periode 14 (N=14) dengan pengandaian sampel pengukuran yang diperlukan sudah mencukupi. Sebagai alternatif para trader bisa menggunakan periode 9 dan 21. %D (N) = sma (%K, N). %D merupakan nilai rata-rata dari %K pada periode tertentu (N), dan karena itu %D juga disebut sebagai ’’stochastic slow’’ karena reaksinya yang lambat. Sedangkan %K disebut sebagai ‘stochastic fast’. Kombinasi %K dan %D disebut full stochastic.

Para trader biasanya memanfaatkan indikator ini untuk melihat titik perpotongan atau crossover, divergensi dan overbought atau oversold. Titik perpotongan terjadi bila garis %K memotong %D. Jika %K memotong %D dari arah bawah ke atas maka ada isyarat  untuk buy. Sementara untuk sinyal sell bila garis %K memotong %D dari arah atas ke bawah. Divergensi adalah gap atau perbedaan yang terjadi antara garis %K dan %D. %K bergerak lebih cepat dari %D. Gap yang terbentuk menjadi isyarat kekuatan arah trend. Gap yang semakin lebar membuktikan semakin kuat arah trend. Jika gap antara kedua garis makin menyempit maka ada isyarat melemahnya arah trend dan kemungkinan arah trend berubah.

Kondisi jenuh beli terjadi bila garis %K bergerak di atas level 80 yang menunjukkan sinyal sell, sebaliknya kondisi jenuh jual terjadi bila garis %K bergerak di bawah level 20 yang memperlihatkan sinyal buy. Sesungguhnya, indikator stochastics mencerminkan perubahan momentum di tingkat resistance maupun support. Indikator ini hanya memberi petunjuk arah harga dan memiliki perhitungan yang lebih kompleks. Sinyal stochastics terlihat sangat baik pada grafik yang menunjukan pasar bergerak menyamping atau berputar. Namun, dalam kondisi trend yang kuat, beberapa periode terlihat sama dan tidak memberikan sinyal trading yang berguna bagi para trader.